Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
بسم الله الرحمن الرحيم
Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Maka sungguh telah sampai kepadaku bahwa kebanyakan dari manusia jatuh di dalam kesalahan yang banyak di dalam Aqidah dan di dalam sesuatu yang mereka menyangka Sunnah padahal sesuatu itu adalah Bid’ah. Dan diantara kesalahan itu adalah pengingkaran ketinggian Allah dan bersemayamnya Allah di atas Arsy. Padahal yang diketahui sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan demikian di dalam kitab-Nya yang Mulia ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata :
إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش
“Sungguh Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan Langit dan Bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy “. (Q.S. Al-A’raf : 54)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan demikian di dalam tujuh ( 7 ) ayat dari kitab Allah yang Agung, Diantara ayat tersebut adalah ayat ini. Ketika Imam Malik rahimahullah ditanya dari perkara demikian. Dia berkata “ Bersemayamnya Allah adalah maklum, dan cara bersemayamnya tidak diketahui, dan beriman kepada bersemayamnya Allah adalah wajib”. Demikian pula selain Imam Malik dari Imam-imam Salaf telah berpendapat ( Istiwanya Allah di atas Arsy ).
Maka sungguh telah sampai kepadaku bahwa kebanyakan dari manusia jatuh di dalam kesalahan yang banyak di dalam Aqidah dan di dalam sesuatu yang mereka menyangka Sunnah padahal sesuatu itu adalah Bid’ah. Dan diantara kesalahan itu adalah pengingkaran ketinggian Allah dan bersemayamnya Allah di atas Arsy. Padahal yang diketahui sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan demikian di dalam kitab-Nya yang Mulia ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata :
إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش
“Sungguh Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan Langit dan Bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy “. (Q.S. Al-A’raf : 54)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan demikian di dalam tujuh ( 7 ) ayat dari kitab Allah yang Agung, Diantara ayat tersebut adalah ayat ini. Ketika Imam Malik rahimahullah ditanya dari perkara demikian. Dia berkata “ Bersemayamnya Allah adalah maklum, dan cara bersemayamnya tidak diketahui, dan beriman kepada bersemayamnya Allah adalah wajib”. Demikian pula selain Imam Malik dari Imam-imam Salaf telah berpendapat ( Istiwanya Allah di atas Arsy ).
Dan makna Al Istiwa adalah telah maklum dari sisi Bahasa Arab, Dia ( Istiwa ) adalah tinggi dan di atas. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata :
فالحكم لله العلي الكبير
“ Maka keputusan adalah pada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar “ (Q.S. Al- Mu’min : 12)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata :
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata :
ولا يؤوده حفظهما وهو العلي العظيم
“ Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar “ (Q.S. Al-Baqarah : 255)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata :
إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه
“ Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya “ (Q.S. Fatir : 10)
Di dalam ayat yang banyak menunjukan atas ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah diatas Arsy dan diatas seluruh makhluk. Dan ini adalah perkataan Ahli Sunnah wal jamaah dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka. Maka yang wajib adalah mengikuti yang demikian dan saling berwasiat dengannya dan memperingatkan manusia dari menyelisihinya.
Dan diantara kesalahan dalam aqidah adalah membangun Masjid – Masjid di atas kuburan dan Sholat di sisi kuburan dan membuat Kubah di atas kuburan. Dan semuanya ini adalah wasilah-wasilah kepada kesyirikan. Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang Yahudi dan Nasrani atas perkara ini dan mewaspadai dari perbuatan demikian. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مسجدا
“ Allah telah melaknat orang Yahudi dan orang Nasrani karena mereka menjadikan kuburan Nabi – Nabi mereka tempat sujud ( ibadah). “ H.R. Bukhari, Muslim
Dan Sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك
“ Ingatlah sesungguhnya keadaan orang-orang sebelum kalian mereka menjadikan kuburan Nabi – Nabi mereka dan orang-orang saleh mereka sebagai tempat sujud. Ingatlah maka janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat sujud maka sesungguhnya Aku melarang kalian dari perbuatan demikian” Imam Muslim telah mengeluarkan Hadits dalam Kitab Shohinya dari Hadits Jundub.
Imam Muslim telah mengeluarkan di dalam shohinya juga dari Jabir Bin Abdillah Al Anshoriy semoga Allah merahmati dari keduanya. Dia telah berkata :
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه
“ Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kubur, duduk diatas kubur dan membangun bangunan diatasnya.”
Dan Hadits semakna dengan ini adalah banyak. Maka yang wajib atas kaum muslimin adalah berhati – hati dari perbuatan ini dan saling berwasiat untuk meninggalkannya karena adanya peringatan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya perbuatan ini adalah diantara Wasilah-wasilah kesyirikan terhadap penghuni kubur dan berdoa kepada mereka dan Istighotsah kepadanya dan mencari pertolongan kepada penghuni kubur dan selainnya dari bentuk-bentuk kesyirikan. Dan telah ma’lum sesungguhnya kesyirikan itu adalah Dosa yang paling besar dan terbesar dan dosa yang paling berbahaya. Maka yang wajib adalah berhati-hati dari syirik dan dari perantara-perantara kesyirikan. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan hamba-hambanya dari perbuatan syirik di dalam Ayat–ayat yang banyak.
Diantara ayat tersebut adalah perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala :
إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء
“ Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya ( syirik), dan Allah mengampuni apa (dosa)yang selain syirik bagi siapa yang Dia Kehendaki. “ (Q.S. An-Nisa : 48)
Diantaranya lagi :
ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين
” Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu sungguh, jika kalian mempersekutukan (Allah) niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi “ (Q.S. Az-Zumar : 65.)
Diantaranya lagi :
ولو أشركوا لحبط عنهم ما كانوا يعملون
“ Dan jika seandainya mereka mempersekutukan Allah pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’am : 88)
Dan Ayat yang semakna dengan ini adalah banyak. Dan diantara bentuk-bentuk kesyirikan yang paling besar adalah berdoa kepada orang-orang mati, berdoa kepada orang-orang ghoib, berdoa kepada Jin, berdoa kepada berhala-berhala, Pohon-pohon dan berdoa kepada bintang-bintang dan meminta pertolongan kepada mereka (berhala-berhala diatas), serta meminta kepada berhala tersebut kesembuhan penyakit dan kemenangan atas musuh. Dan ini adalah agama orang-orang Musyrik yang awal dari kafir Quraisy dan selainnya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata tentang mereka :
ويعبدون من دون الله ما لا يضرهم ولا ينفعهم ويقولون هؤلاء شفعاؤنا عند الله
Dan mereka (orang musrik) menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat
mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. (Q.S. Yunus : 18)
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata :
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata :
فاعبد الله مخلصا له الدين
ألا لله الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى إن الله يحكم بينهم فيما هم فيه يختلفون إن الله لا يهدي من هو كاذب كفار
ألا لله الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى إن الله يحكم بينهم فيما هم فيه يختلفون إن الله لا يهدي من هو كاذب كفار
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Q.S. Az-Zumar : 2-3)
Dan ayat semakna dengan ini adalah banyak. Yakni menunjukkan sesungguhnya mereka orang-orang musyrik yang awal, mereka mengetahui sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dia adalah pencipta, pemberi rezeki, pemberi mamfaat, pemberi mudhorat, hanya saja mereka beribadah kepada Tuhan-Tuhan mereka agar Tuhan-Tuhan mereka memberikan syafaat kepada mereka disisi Allah dan agar Tuhan-Tuhan mereka mendekatkan mereka di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkafirkan mereka dengan perbuatan demikian.
Dan ayat semakna dengan ini adalah banyak. Yakni menunjukkan sesungguhnya mereka orang-orang musyrik yang awal, mereka mengetahui sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dia adalah pencipta, pemberi rezeki, pemberi mamfaat, pemberi mudhorat, hanya saja mereka beribadah kepada Tuhan-Tuhan mereka agar Tuhan-Tuhan mereka memberikan syafaat kepada mereka disisi Allah dan agar Tuhan-Tuhan mereka mendekatkan mereka di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkafirkan mereka dengan perbuatan demikian.
Dan Allah menghukum dengan kekafiran dan kesyirikan mereka. Dan Allah memerintahkan Nabinya untuk memerangi mereka (orang-orang kafir) hingga peribadatan adalah milik Allah saja sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata :
وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة ويكون الدين كله لله
“ Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama hanya bagi Allah semata.” (Q.S. Al-Anfal : 39)
Dan sungguh para Ulama telah menulis tulisan yang banyak tentang perkara ini. Dan menjelaskan Hakikat (kebenaran) Islam yang Allah telah mengutus dengan nya para Rasul-Nya. Dan menurunkan Kitab-kitab-Nya. Dan para Ulama telah menjelaskan agama dan keyakinan orang-orang Jahiliyah serta amal-amal mereka yang menyelisihi terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti Abdullah Bin Imam Ahmad, dan Imam yang besar Muhammad Bin Khuzaimah di dalam kitab tauhid. Serta Muhammad bin Wadah dan selain mereka dari para Imam. Dan yang paling baik adalah kitab yang ditulis oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah semoga Allah merahmatinya di dalam Kitab-kitabnya yang banyak, dan diantara kitab-kitabnya yang paling ringkas adalah Al Qaaidatul Jaliylah Fii Tawassul Wal Wasilah. Dan diantaranya adalah kitab yang Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Bin Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab telah menulisnya Semoga Allah merahmati mereka di dalam Kitabnya Fathul Madjid Syarah Kitab Tauhid.
Dan diantara amalan yang mungkar yang mengandung kesyirikan adalah bersumpah kepada selain Allah seperti bersumpah kepada Nabi ‘alahissalaatu wassalam atau selain Nabi dari manusia. Dan bersumpah demi amanah. Dan semua perbuatan demikian adalah termasuk perbuatan-perbuatan mungkar dan perbuatan-perbuatan haram yang syirik berdasarkan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
من حلف بغير الله فقد أشرك
“ Barang siapa yang bersumpah dengan sesuatu selain Allah maka sungguh dia telah syirik.” (H.R. Ahmad, Abu Daud & At Tarmidziy)
Dan telah tetap dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
Dan telah tetap dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
من حلف بالأمانة فليس منا
“ Barang siapa yang bersumpah demi amanah maka dia bukan termasuk golongan kami.”
Dan Hadits dalam perkara demikian adalah banyak. Dan bersumpah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk syirik yang kecil disisi ahlil ilmi. Maka yang wajib adalah berhati-hati dari syirik yang kecil dan Dia (syirik yang kecil) adalah Wasilah-wasilah kepada syirik yang besar. Dan termasuk syirik kecil pula adalah perkataan atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kehendak Fulan, seandainya bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Fulan, ini adalah dari Allah dan dari Fulan. Maka yang wajib adalah agar dikatakan atas kehendak Allah kemudian kehendak Fulan, atau seandainya bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian karena Fulan atau ini adalah dari Allah kemudian dari Fulan dari apa-apa yang telah tetap dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya Beliau telah berkata:
Dan Hadits dalam perkara demikian adalah banyak. Dan bersumpah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk syirik yang kecil disisi ahlil ilmi. Maka yang wajib adalah berhati-hati dari syirik yang kecil dan Dia (syirik yang kecil) adalah Wasilah-wasilah kepada syirik yang besar. Dan termasuk syirik kecil pula adalah perkataan atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kehendak Fulan, seandainya bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Fulan, ini adalah dari Allah dan dari Fulan. Maka yang wajib adalah agar dikatakan atas kehendak Allah kemudian kehendak Fulan, atau seandainya bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian karena Fulan atau ini adalah dari Allah kemudian dari Fulan dari apa-apa yang telah tetap dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya Beliau telah berkata:
لا تقولوا ما شاء الله وشاء فلان قولوا ما شاء الله ثم شاء فلان
“Janganlah kalian mengatakan atas kehendak Allah dan kehendak Fulan tetapi katakanlah atas kehendak Allah kemudian kehendak Fulan”
Dan diantara perbuatan-perbuatan haram yang syirik yang sungguh kebanyakan manusia terjatuh di dalamnya adalah menggantungkan Jimat-jimat dan penangkal-penangkal dari tulang-tulang atau rumah kerang atau selain itu dan dinamakan Jimat-jimat.
Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
من تعلق تميمة فلا أتم الله له ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له
“ Barang siapa yang menggantungkan jimat maka Allah tidak akan menyempurnakan baginya. Dan barang siapa yang menggantungkan batu kerang maka tidaklah Allah memberikan ketenangan baginya. Dan barang siapa menggantungkan jimat maka sungguh dia telah berbuat syirik “ (H.R. Ahmad)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
إن الرقى والتمائم والتولة شرك
“ Sesungguhnya Rukyah (jampi-jampi), Jimat-jimat dan Tiwalah (ilmu pelet) adalah syirik “ (H.R. Ahmad & Abu Daud)
Dan hadits ini adalah meliputi penangkal-penangkal dan jimat-jimat baik dari Alqur’an maupun selainnya. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengecualikan sesuatu. Dan karena sesungguhnya menggantungkan jimat-jimat dari Alqur’an adalah Wasilah-wasilah kepada menggantungkan selain alqu’ran. Maka wajib mencegah semua ini untuk mencegah wasilah-wasilah kepada kesyirikan dan mewujudkan Tauhid. Serta beramal dengan keumuman Hadits kecuali masalah Rukyah maka sesungguhnya Rasulullah Alaissalaatu Wassalam telah mengecualikan dari rukyah hal-hal yang tidak ada pada rukyah tersebut kesyirikan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata:
باب لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك
“ Tidaklah mengapa dengan rukyah selama keadaannya bukan syirik.”
Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merukyah sebagian sahabatnya.
Maka Rukyah tidaklah mengapa dengannya. Bahwa Rukyah termasuk sebab-sebab yang syar’i apabila keadaan rukyah tersebut dari Alqur’an yang mulia atau dari perkara yang Sunnah telah menshahihkannya atau dari kalimat-kalimat yang jelas yang tidak ada kesyirikan dan lafaz yang mungkar.
Maka Rukyah tidaklah mengapa dengannya. Bahwa Rukyah termasuk sebab-sebab yang syar’i apabila keadaan rukyah tersebut dari Alqur’an yang mulia atau dari perkara yang Sunnah telah menshahihkannya atau dari kalimat-kalimat yang jelas yang tidak ada kesyirikan dan lafaz yang mungkar.
Dan diantara kemungkaran-kemungkaran yang diada-adakan adalah perayaan kelahiran-kelahiran sama saja keadaannya dengan perayaan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau selain Nabi. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin serta para sahabat lainnya, para Tabiin baik pada generasi ke tiga yang diutamakan tidaklah mengerjakan perayaan kelahiran, hanya saja Bid’ah perayaan maulid terjadi pada generasi yang ke empat dan setelahnya dengan sebab Bani Fatimiyah dan selainnya dari kaum Syiah. Kemudian sebagian Ahli Sunnah dari kalangan awwam telah mengerjakan perkara Bid’ah karena Jahilnya terhadap hukum yang syar’i dan Taklid terhadap orang-orang yang mengerjakannya dari ahli bid’ah. Maka yang wajib adalah berhati – hati dari perkara yang baru disebabkan keadaannya termasuk Bid’ah yang mungkar yang masuk di dalam perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“ Berhati-hatilah kalian terhadap perkara yang baru dalam agama, karena sesungguhnya perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat. “( H.R. Tirmidziy Abu Dawud)
Dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“ Barang siapa yang membuat perkara baru di dalam agama kami ini apa-apa yang bukan dari agama maka dia (perkara baru) tertolak.”
Telah disepakati atas keshahihannya dari hadits Aisyah semoga Allah meridhoi terhadapnya.
Dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“ Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada pada amalan tersebut tuntunan
agama kami maka dia (amalan) tertolak.”
Imam Muslim telah mengeluarkan di dalam shahih Muslim. Dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Khutbahnya:
أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة
“ Adapun setelah itu maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammmad Alaissalatu Wassalam dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama ) dan setiap bid’ah ( yang diada-adakan ) adalah sesat. Imam Muslim telah mengeluarkan hadits di atas dalam shahihnya dari Jabir bin Abdillah semoga Allah meridhoi dari keduanya. Dan hadits di dalam bab ini adalah banyak. Karena sesungguhnya perayaan Maulid (kelahiran) adalah termasuk Wasilah-wasilah kepada sikap berlebih-lebihan dan syirik. Maka yang wajib adalah menjauh dari perayaan Maulid dan memperingatkan dari bahayanya dan saling berwasiat untuk istiqamah diatas Sunnah dan meninggalkan apa-apa yang menyelisihi Sunnah.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang diminta terhadap apa-apa yang berada di dalam keridhoan-Nya. Dan semoga Allah memberi kami semua pemahaman di dalam agama-Nya dan keteguhan di atas agama-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kami dan semua kaum muslimin dari kesesatan-kesesatan fitnah dan bujukan – bujukan syaithon. Sesungguhnya Allah adalah penolong semua ini dan Allah maha mampu atas yang demikian. Wassalaamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu.
Dialih Bahasakan oleh: HAMRA HAYA dari Kitab Nasihatun ‘Ammatun Lilmuslimin oleh Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baaz. (Mufti dan Ketua Dewan Fatwa & Pembahasan Ilmiah Kerajaan Saudi Arabiah)
Artikel: ibnuabbaskendari
0 komentar:
Posting Komentar