Minggu, 15 Mei 2011 - , 0 komentar

Tips Pembuatan Paspor

Persyaratan Permohonan Paspor
A. PERSYARATAN PERMOHONAN PASPOR RI

1. Mengisi formulir permohonan paspor RI dengan benar dan lengkap (perdim 11, yang dapat diperoleh di kantor imigrasi);

2. Melampirkan berkas asli dan foto kopi identitas diri, antara lain ;

§ Kartu Tanda Penduduk (KTP);

§ Akte Kelahiran (KK) dan atau Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah;

§ Surat Kawin/Akte Nikah bagi yang telah menikah;

3. Paspor RI yang lama bagi pemohon penggantian paspor RI;

4. Surat ganti nama (jika direncanakan akan dilakukan perubahan atau pergantian nama)

5. Rekomendasi tertulis dari atasan atau pimpinan bagi mereka yang bekerja sebagai PNS, karyawan BUMN, TNI/Polri atau Karyawan Swasta;

6. Pemohon melakukan pembayaran sesuai ketentuan yang berlaku (Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2007 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak di lingkungan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI).

Minggu, 08 Mei 2011 - 0 komentar

Perniagaan yang Tidak Akan Merugi

بسم الله الرحمن الرحيم


Semua manusia sepakat, meskipun secara tidak tertulis, bahwa target mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan adalah meraih kesuksesan, mendapat untung dan terhindar dari kerugiaan.

Ironisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha dan urusan yang bersifat duniawi belaka, sedangkan untuk urusan akhirat mereka hanya merasa cukup dengan ‘hasil’ yang pas-pasan dan seadanya. Ini merupakan refleksi dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan keadaan mayoritas manusia ini dalam firman-Nya,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. ar-Ruum: 7).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti (ayat ini): mayoritas manusia tidak memiliki ilmu pengetahuan kecuali dalam (perkara-perkara yang berkaitan dengan) dunia, keuntungan-keuntungannya, urusan-urusan dan semua hal yang berhubungan dengannya. Mereka sangat mahir dan pandai dalam usaha meraih (keberhasilan) dan cara-cara mengusahakan keuntungan duniawi, sedangkan untuk kemanfaatan (keberuntungan) di negeri akhirat mereka lalai (dan tidak paham sama sekali), seolah-seolah mereka seperti orang bodoh yang tidak punya akal dan pikiran (sama sekali).” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 3/560)

Perniagaan Akhirat


Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan amalan-amalan shalih, lahir dan batin, yang disyariatkan-Nya untuk mencapai keridhaan-Nya dan meraih balasan kebaikan yang kekal di akhirat nanti sebagai “tijaarah” (perniagaan) dalam banyak ayat al-Qur’an.

Ini menunjukkan bahwa orang yang menyibukkan diri dengan hal tersebut berarti dia telah melakukan ‘perniagaan’ bersama Allah Ta’ala, sebagaimana orang yang mengambil bagian terbesar dari perniagaan tersebut maka dialah yang paling berpeluang mendapatkan keuntungan yang besar.

Sabtu, 07 Mei 2011 - 0 komentar

Pagi Hari : Antara Tidur Dan Dzikir

Oleh
Ustadz Ashim bin Musthofa

Pagi hari, tatkala udara masih terasa dingin, menggoda seseorang untuk tetap berdiam di atas ranjang, meski adzan Subuh sudah berkumandang. Atau usai mengerjakan shalat Subuh, seolah betapa nikmat melanjutkan tidur atau bermalas-malasan. Padahal ada satu aktifitas yang semestinya dilakukan seorang muslim pada pagi hari. Yaitu Rasulullah n mengajarkan, agar kita berdzikir pada waktu pagi hari, bukan justru melanjutkan tidur.

Tidur pagi (setelah subuh) bukanlah kebiasaan yang baik. Orang-orang yang dikenal “menyukai” kasur hanyalah para bayi dan orang-orang sakit, serta para pengangguran. Untuk kelompok pertama dan kedua, tidur mereka lantaran karena kondisi. Sementara untuk golongan ketiga, karena tuntutan “profesi” yang dampaknya memupuk kemalasan.

Namun adakalanya, orang yang tidak termasuk dalam golongan di atas, menggandrungi ranjang sehabis shalat Subuh. Bahkan seolah-olah menjadi kurikulum tetap yang tidak bisa diganggu gugat. Oleh karenanya, tulisan ini ingin menggugah semangat kita untuk memulai aktifitas sedini mungkin, di pagi hari yang berudara segar.

Minggu, 01 Mei 2011 - , , , 0 komentar

Fanatik kepada Ulama

(Mengungkap Bahaya Fanatik Mazhab)

Oleh

Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

Definisi Fanatik

Fanatik atau dalam bahasa arabnya disebut dengan “Ta’ashub” adalah anggapan yang diiringi sikap yang paling benar dan membelanya dengan membabi buta. Benar dan salahnya, wala’ dan bara’nya diukur dan didasarkan keperpihakan pada golongan. Fanatik ini bisa terjadi antar madzhab, kelompok, organisasi, suku atau negara. (Lihat kembali Majalah Al-Furqon hal. 13 edisi 5 Th. 11) -majalah yang dikelola Ustadz Abu Ubaidah (editor)-

Adapun madzhab ialah pendapat seseorang mujtahid tentang hukum sesuatu, yaitu pendapat yang digali dari Al-Qur’an dan hadits dengan kekuatan ijtihadnya.
Madzhab yang masyhur ada empat: Madzhab Hanafi (Abu Hanifah rahimahullah), madzhab Maliki (imam Malik rahimahullah), madzhab Syafi’i (imam Syafi’i rahimahullah), madzhab Hanbali (imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah)


Sekalipun sebenarnya ada beberapa madzhab lainnya seperti madzhab Dhahiriyyah, Zaidiyyah, Sufyaniyyah dan sebagainya. Semua madzhab dapat diambil pendapatnya jika benar dan dapat pula ditinggalkan jika salah, karena memang tidak ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali Al-Qur’an dan sunnah Nabi. (Lihat Syarh Lum’ah Al-I’tiqad hal. 166-167 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah).

Fenomena Fanatik Mazdhab

Fenomena fanatik madzhab sangat nyata terpampang tak terelakkan, baik dalam lembaran kitab madzhab klasik dan kontemporer maupun dalam fakta kehidupan. Muatannya sesak dengan saling tuding-menuding, menghujat, dan mencela satu sama lain sehingga memantapkan kita semua bahwa klaim mereka selama ini “semua madzhab adalah benar” hanyalah omong kosong belaka yang tidak ada buktinya.

- 0 komentar

Nasehat Umum Bagi Kaum Muslimin Tentang Beberapa Kesalahan dalam Aqidah

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Abdul Azis Bin Abdillah Bin Baaz kepada kaum muslimin. Semoga Allah memberikan mereka Taufik terhadap apa-apa yang di dalamnya terdapat keridhaan Allah dan Semoga Allah menambahkan mereka dari Ilmu dan Iman Aamin.

Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Maka sungguh telah sampai kepadaku bahwa kebanyakan dari manusia jatuh di dalam kesalahan yang banyak di dalam Aqidah dan di dalam sesuatu yang mereka menyangka Sunnah padahal sesuatu itu adalah Bid’ah. Dan diantara kesalahan itu adalah pengingkaran ketinggian Allah dan bersemayamnya Allah di atas Arsy. Padahal yang diketahui sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan demikian di dalam kitab-Nya yang Mulia ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata :
إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش
“Sungguh Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan Langit dan Bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy “. (Q.S. Al-A’raf : 54)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan demikian di dalam tujuh ( 7 ) ayat dari kitab Allah yang Agung, Diantara ayat tersebut adalah ayat ini. Ketika Imam Malik rahimahullah ditanya dari perkara demikian. Dia berkata “ Bersemayamnya Allah adalah maklum, dan cara bersemayamnya tidak diketahui, dan beriman kepada bersemayamnya Allah adalah wajib”. Demikian pula selain Imam Malik dari Imam-imam Salaf telah berpendapat ( Istiwanya Allah di atas Arsy ).