Rabu, 27 Oktober 2010 - , , , 1 komentar

Mahasiswa Universitas Airlangga Meraih Prestasi di Bumi Formosa (Taiwan)

Semua berawal dari mimpi. Saya dan Vicky Vendy ingin pergi ke luar negeri untuk kuliah dan mencari pengalaman yang berharga. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan manusia berbagai macam suku untuk saling mengenal.

Pada awalnya, kami mengikuti lomba karya tulis ilmiah yang diadakan di Universitas Hasanudin, Makassar. Alhamdulillah kami berhasil menjadi Juara 1 dalam lomba tersebut. Setelah lomba tersebut kami bermimpi untuk bisa ikut lomba di luar negeri. Alhamdulillah doa kami dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Beberapa minggu kemudian, di mading kampus terpampang pengumuman lomba business plan di Taiwan. Pada awalnya kami hanya iseng untuk mengirim paper yang disyaratkan untuk lolos sebagai finalis. Karena ini adalah paper individu pertama, kami pun masih bingung untuk menulis apa dan kami pun harus berpikir sendiri tentang paper apa yang masing-masing akan kami tulis.

Meskipun berpikir sendiri, kami tetap meminta masukan dari teman dan dosen untuk memperbaiki paper tersebut.


Kami teringat sebuah pepatah Arab yang bunyinya “Man jadda wajada” Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkannya. Kami juga teringat pesan dari pembimbing kami, Bapak Iman Harymawan, SE., MBA., (Dosen Departemen Akuntansi FEB-UA) dengan mengutip ayat di QS. Al-Imran (3): 139 yang artinya “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” Dengan membulatkan tekad, kamipun berusaha semaksimal mungkin agar paper kami menarik dan lolos dipanggil sebagai finalis. 

Ketika pengumuman, Alhamdulillah kami diterima untuk terbang ke Taiwan. Kamipun tidak menyangka kami bisa menjadi finalis. Karena seleksi ini adalah seleksi untuk mewakili Indonesia. Saya belum banyak pengalaman untuk menulis paper.



Banyak pengalaman berharga dan menarik yang kami dapatkan. Pertama, kami mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dan berdiskusi dengan teman-teman dari India, Thailand, Vietnam, Malaysia, Iran, dan Taiwan. Karena saya dan Vicky berada di kelompok yang berbeda. Oleh panitia kami dikelompokkan dengan teman-teman dari negara lain. Kesempatan yang sangat langka dan berharga ini tidak kami sia-siakan begitu saja. Selain memperlancar kualitas bahasa Inggris, kami juga bertukar pikiran tentang ide bisnis yang akan diajukan untuk kompetisi ini. Lalu kami juga kami mendapatkan seminar tentang mengembangkan ide yang kreatif dan aplikatif. Maksudnya, ide tersebut harus unik dan bisa digunakan secara nyata. Tidak hanya khayalan belaka. Kedua, kami terpaksa menjadi vegan atau yang lebih dikenal sebagai orang yang makan makanan vegetarian. Karena hampir semua makanan disana mengandung babi. Hewan yang dilarang untuk dimakan oleh agama Islam. Meskipun kami tidak terlalu suka sayur, kami terpaksa untuk memakan makanan tersebut. Dengan pengalaman ini, kami bersyukur kami masih bisa makan walaupun hanya dengan sayur. Karena masih banyak saudara kita yang belum bisa makan dengan layak. Ketiga, kami pertama kali sholat jumat di Masjid Tainan dengan khutbah jumat berbahasa mandarin. Kami hanya menjadi pendengar setia dan mencoba mengerti dari isi khutbah jumat tersebut. Karena isi dari setiap khutbah jumat adalah untuk mengajak kita menjadi manusia yang bertakwa.

Kami ingin berbagi sedikit tips untuk pembaca, khususnya rekan-rekan mahasiswa. Mulailah dari sesuatu yang kecil. Karena sesuatu yang besar berasal dari sesuatu yang kecil. Jangan malu untuk bertanya kepada siapapun. Kita memang terlihat bodoh karena kita belum tahu. Semua kemenangan butuh usaha dan doa. Gunakanlah semua ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Lalu kita pasrahkan hasilnya kepada Allah Azza wa Jalla. Karena segala sesuatu adalah kehendak-Nya. Tanpa dua hal tersebut, kita tidak bisa menjadi seorang juara. Kami bukan seorang penulis yang handal. Tapi saya mau bertanya kepada orang yang ahli agar bisa seperti mereka. Saya berpendapat orang yang ahli dulunya juga belum ahli. Perlu proses untuk menjadi pemenang. Tidak bisa secara instan. Selain itu, kita harus mau mendengar pendapat orang lain. Meskipun kita juga pintar di bidang tersebut. Siapa tahu orang tersebut lebih pintar dari kita. Kita butuh masukan dari orang lain untuk menjaga kita tetap rendah hati. Meskipun kita pintar, kita harus tetap rendah hati. Hal ini kami dapatkan ketika kami berdiskusi dengan rekan satu tim kami. Kami mempunyai berbagai ide, tapi pada akhirnya kami bisa menggabungkan ide tersebut, karena kami mau menerima masukan dan sungguh-sungguh dalam mengembangkan ide tersebut. Karena kami hanya diberi waktu satu setengah hari untuk berdiskusi & menentukan ide bisnis apa yang harus kami presentasikan di depan para juri.

Sebagai mahasiswa, kita harus memiliki cita-cita yang tinggi. Karena dengan cita-cita yang tinggi, kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menggapainya.

1 komentar:

The Corn World 6 November 2011 pukul 13.33

waaah kereeenn...
selamat yaa :)
jadi juara berapa ntu?

panggilsayabella.wordpress.com
bellaspeak.tumblr.com